Putra bungsu Komjen Badrodin Haiti,
Fakhri Subhana, memilih menempuh pendidikan di bidang kesehatan
daripada mengikuti jejak ayah dan kakaknya Farouq Ashadi, menjadi
seorang polisi.
Fakhri punya alasan mengapa ia lebih memilih mendalami ilmu farmasi.
Ia kini tengah menempuh pendidikan magister Ilmu Kefarmasian Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia.
Fakhri mengungkapkan, sakit yang pernah diderita ibunya lah yang
menjadi salah satu alasan ia lebih memilih mendalami ilmu farmasi.
"Awalnya waktu SMA saya mau ambil kedokteran. Tapi tahun 2008 saat
mama sakit, saya akhirnya memilih mengambil jurusan farmasi," kata
Fakhri, saat dijumpai di kediaman keluarga Badrodin Haiti, kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2015).
Saat itu, kata dia, ibunya, Tejaningsih, menderita sakit pada
lambungnya. Namun, setelah menjalani pengobatan dengan mengasup berbagai
jenis obat, penyakit sang ibu tak kunjung sembuh.
"Akhirnya kita bawa lagi ke rumah sakit itu, dan sama pihak rumah
sakit katanya diberi obat-obatan yang sama seperti waktu pulang," cerita
dia.
Setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut, Tejaningsih belum juga
sembuh. Bahkan, kondisi kesehatannya memburuk. Tejaningsih divonis
menderita Stevens-Johnson Syndrome, di mana tubuhnya mengalami pelepuhan
dan bengkak pada mata.
"Tangannya melepuh, matanya bengkak menutup, bibirnya juga mengering dan menempel," ujarnya.
Akhirnya, Tejaningsih dibawa ke Singapura dan menjalani perawatan
selama beberapa bulan. Fakhri bersyukur, ibunya dianugerahi kesehatan
dan bisa mengalahkan sakitnya.
"Saya sempat sedih karena diberitahu tingkat harapan hidupnya saat
itu sekitar 5-10 persen saja. Oleh karena itulah saya memilih untuk
menjadi ahli farmasi dan bukan dokter supaya bisa mengobati mama,"
katanya. (Dani Prabowo)
Sumber: Tribunnews.com

Komentar
Posting Komentar